Perbedaan Budaya Kerja Korea vs Indonesia dalam Drama What's Wrong with Secretary Kim
Perbedaan Budaya Kerja Korea vs Indonesia dalam Drama What's Wrong with Secretary Kim
Drama Korea What's Wrong with Secretary Kim (2018) menjadi salah satu tontonan favorit banyak orang, tak hanya karena kisah romantisnya yang menggemaskan, tetapi juga karena memperlihatkan perbedaan budaya kerja antara Korea dan Indonesia. Lewat kehidupan kantoran di Seoul yang digambarkan dalam drama ini, kita bisa melihat bagaimana budaya kerja di Korea begitu berbeda dengan nuansa kerja di Indonesia yang lebih santai dan kekeluargaan. Yuk, kita bahas beberapa perbedaannya!
1. Disiplin Waktu Ekstrem
Di Korea, waktu adalah segalanya. Dalam drama ini, Kim Mi-so, sang sekretaris, selalu bekerja dengan presisi tinggi dan siap kapan saja. Bahkan rapat sering dimulai sebelum jam kantor! Bandingkan dengan budaya "jam karet" di Indonesia yang terkadang masih cukup toleran terhadap keterlambatan. Bagi orang Korea, terlambat sedikit saja bisa dianggap tidak profesional.
2. Dedikasi Kerja Tanpa Henti
Kim Mi-so digambarkan bekerja selama 9 tahun tanpa banyak jeda untuk kehidupan pribadinya. Ia selalu siap memenuhi kebutuhan bosnya kapan pun dibutuhkan. Ini mencerminkan work-life balance yang sangat rendah di Korea, di mana dedikasi terhadap pekerjaan sering kali menjadi prioritas utama. Di Indonesia, meskipun kerja keras tetap dihargai, suasana kerja cenderung lebih fleksibel dan ada ruang untuk menikmati waktu bersama keluarga.
3. Hierarki dan Senioritas
Hubungan antara bos Lee Young-joon dan Kim Mi-so sangat hierarkis, dengan rasa hormat mendalam dari bawahan kepada atasan. Budaya senioritas ini sangat kental di Korea. Sementara itu, di Indonesia, meskipun hierarki tetap ada, suasana kerja biasanya lebih santai dan kekeluargaan, sehingga hubungan antara atasan dan bawahan sering terasa lebih cair.
4. Tekanan Tinggi dan Profesionalisme
Drama ini juga menggambarkan bagaimana Kim Mi-so tetap profesional meskipun menghadapi tekanan tinggi, termasuk menghadapi sifat narsistik bosnya. Di Korea, standar kinerja yang tinggi adalah hal biasa, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna sering kali menjadi beban tersendiri. Sebaliknya, di Indonesia, meskipun profesionalisme tetap penting, tekanan kerja biasanya tidak seintens di Korea.
5. Budaya Makan Bersama (Hoesik)
Adegan makan bersama dalam drama ini menunjukkan tradisi hoesik di Korea, di mana rekan kerja atau atasan dan bawahan sering makan atau minum bersama setelah jam kerja untuk mempererat hubungan. Namun, acara seperti ini sering dianggap sebagai bagian dari pekerjaan dan bisa terasa melelahkan. Di Indonesia, acara makan bersama lebih santai, seperti nongkrong di angkringan atau warung makan dengan suasana kekeluargaan.
Adaptasi Versi Indonesia
Menariknya, versi adaptasi Indonesia dari drama ini berjudul What's Up with Secretary Kim? (2025). Dalam versi ini, nuansa lokal sangat terasa dari gaya berpakaian yang lebih kasual hingga adegan makan bersama di angkringan. Ini menunjukkan bahwa budaya kerja di Indonesia memang lebih santai dan mengutamakan kebersamaan.
Kesimpulan
Drama What's Wrong with Secretary Kim memberikan gambaran menarik tentang budaya kerja di Korea yang penuh disiplin dan dedikasi tinggi. Namun, ketika diadaptasi ke versi Indonesia, perbedaan budaya kerja yang lebih santai dan kekeluargaan menjadi daya tarik tersendiri. Jadi, baik Korea maupun Indonesia punya keunikan masing-masing dalam dunia kerja. Bagaimana menurut kamu? Apakah kamu lebih cocok dengan budaya kerja yang intens seperti Korea atau yang lebih santai seperti Indonesia? 😊
