Mengapa League of Legends Sulit Populer di Indonesia?
Mengapa League of Legends Sulit Populer di Indonesia?
League of Legends (LoL) adalah salah satu game MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang sangat populer di tingkat global. Namun, sayangnya, popularitas ini tidak terlalu terasa di Indonesia. Banyak faktor yang memengaruhi mengapa LoL tidak berhasil merebut hati gamer Indonesia, baik untuk versi PC maupun versi mobile-nya, yaitu Wild Rift. Mari kita bahas bersama!
LoL PC: Terlambat dan Sulit Bersaing
LoL pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 2013, ketika Dota 2 sudah lebih dulu mencuri perhatian para gamer PC. Pada saat itu, banyak pemain sudah merasa nyaman dengan gameplay dan grafis Dota 2, sehingga LoL harus bekerja ekstra keras untuk menarik perhatian mereka. Sayangnya, upaya ini kurang berhasil.
Salah satu masalah utama adalah pengelolaan oleh publisher Garena. Garena sering dianggap kurang profesional oleh komunitas gamer Indonesia karena isu-isu seperti pengelolaan server yang buruk dan masalah keamanan. Selain itu, tren gaming saat itu mulai bergeser ke platform mobile, sehingga banyak gamer PC mulai beralih.
Pada tahun 2019, server LoL Indonesia ditutup dan digabungkan ke server Asia Tenggara karena jumlah pemain yang tidak signifikan. Hal ini membuat pemain merasa semakin terisolasi dari komunitas global dan kehilangan minat.
Wild Rift: Terlambat dan Tertinggal
Ketika Riot Games meluncurkan Wild Rift, mereka berharap bisa merebut pasar mobile gaming di Indonesia. Namun, Wild Rift dirilis setelah Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) sudah lebih dulu mendominasi pasar. Banyak pemain mobile di Indonesia sudah nyaman dengan MLBB dan sulit untuk berpindah ke game lain.
Promosi Wild Rift juga kurang efektif. Pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung saat itu membatasi aktivitas promosi offline, sementara MLBB terus memperkuat posisinya dengan turnamen besar dan komunitas yang solid. Masalah teknis seperti bug pada versi awal Wild Rift juga menjadi keluhan para pemain.
Faktor Lain yang Memengaruhi
Selain faktor waktu dan promosi, ada beberapa hal lain yang membuat LoL kurang diterima di Indonesia. Komunitasnya sering dianggap "gatekeeping," di mana pemain baru merasa sulit diterima atau bahkan diremehkan. Hal ini tentu membuat banyak orang enggan mencoba.
Kesulitan integrasi dengan event global juga menjadi kendala. Ketika pemain merasa tidak bisa ikut serta dalam event internasional karena kendala server atau region, mereka cenderung kehilangan semangat untuk terus bermain.
Kesimpulan
Pada akhirnya, LoL menghadapi tantangan besar di Indonesia karena terlambat masuk pasar dan menghadapi pesaing yang sudah lebih dulu mengakar. Baik Dota 2 di platform PC maupun Mobile Legends di platform mobile, keduanya sudah "merebut hati" gamer Indonesia sebelum LoL sempat menunjukkan potensinya.
Namun, bukan berarti LoL tidak memiliki penggemar di Indonesia. Komunitas kecil tapi loyal masih tetap ada hingga hari ini. Semoga ke depannya Riot Games bisa belajar dari pengalaman ini dan terus berinovasi untuk menarik lebih banyak pemain di Tanah Air. 😊
