Mengapa Berita Buruk Lebih Menarik? Fenomena Negativity Bias yang Perlu Kita Ketahui

 

Mengapa Berita Buruk Lebih Menarik? Fenomena "Negativity Bias" yang Perlu Kita Ketahui

Mengapa Berita Buruk Lebih Menarik? Fenomena "Negativity Bias" yang Perlu Kita Ketahui


Pernahkah Anda merasa berita buruk jauh lebih menarik perhatian dibandingkan berita baik? Misalnya, berita tentang bencana, kerusuhan, atau kejahatan sering kali lebih cepat viral dibandingkan kabar baik seperti penemuan teknologi baru atau aksi sosial yang menginspirasi. Fenomena ini bukan kebetulan, lho! Ada alasan psikologis dan sosial di baliknya, salah satunya adalah apa yang disebut sebagai negativity bias atau bias negatif.


Apa Itu Negativity Bias?

Secara sederhana, negativity bias adalah kecenderungan otak kita untuk lebih fokus pada hal-hal negatif dibandingkan hal-hal positif. Mengapa demikian? Jawabannya terletak pada evolusi. Nenek moyang kita yang hidup di zaman purba harus selalu waspada terhadap ancaman, seperti predator atau bahaya alam. Mereka yang lebih peka terhadap ancaman ini memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan mewariskan gen mereka. Oleh karena itu, otak manusia secara alami cenderung "terprogram" untuk memperhatikan hal-hal negatif sebagai mekanisme bertahan hidup.


Mengapa Berita Buruk Lebih Menarik?

Ada beberapa faktor yang membuat berita buruk lebih menarik perhatian kita:


1. Rasa Penasaran yang Tinggi

   Berita buruk sering kali memunculkan banyak pertanyaan: Siapa yang terlibat? Apa yang terjadi? Mengapa bisa terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kita ingin tahu lebih banyak dan terus mengikuti perkembangannya.


2. Emosi yang Kuat

   Berita buruk memicu emosi-emosi intens seperti ketakutan, kemarahan, atau kesedihan. Emosi-emosi ini terasa lebih "hidup" dibandingkan emosi datar yang biasanya muncul dari berita baik.


3. Kebutuhan untuk Waspada 

   Secara naluriah, kita ingin mengetahui bahaya di sekitar kita agar bisa menghindarinya. Inilah mengapa berita seperti bencana alam atau konflik sering kali menjadi perhatian utama.


4. Sensasionalisme Media 

   Media sering kali menggunakan judul-judul yang bombastis untuk menarik perhatian pembaca. Berita buruk yang mengejutkan atau kontroversial lebih mudah menarik klik dan komentar dibandingkan berita baik.


5. Algoritma Media Sosial 

   Di era digital, algoritma media sosial memainkan peran besar. Konten yang mendapatkan banyak interaksi termasuk berita buruk akan lebih sering muncul di linimasa kita. Akibatnya, kita terus-menerus terpapar berita negatif.


Bagaimana Kita Menyikapinya?

Meskipun wajar jika kita lebih tertarik pada berita buruk, terlalu banyak terpapar informasi negatif bisa berdampak buruk pada kesehatan mental kita. Fenomena seperti doomscrolling kebiasaan terus-menerus menggulir media sosial untuk membaca berita buruk bisa meningkatkan rasa cemas dan stres.


Untuk mengimbanginya, cobalah untuk lebih selektif dalam mengonsumsi berita. Luangkan waktu untuk mencari kabar baik atau cerita inspiratif yang bisa memberikan energi positif. Dan ingat, tidak semua hal buruk di dunia ini perlu kita serap sepenuhnya.


Akhir kata, memahami mengapa berita buruk terasa lebih menarik bisa membantu kita lebih bijak dalam menyikapi informasi sehari-hari. Yuk, mulai sekarang, seimbangkan asupan berita Anda dengan hal-hal yang membawa kebahagiaan! 😊

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url