Bagaimana TikTok Mengubah Wajah Filsafat dan Dampaknya pada Generasi Muda

 

Bagaimana TikTok Mengubah Wajah Filsafat dan Dampaknya pada Generasi Muda

Bagaimana TikTok Mengubah Wajah Filsafat dan Dampaknya pada Generasi Muda


TikTok, platform berbagi video pendek yang digandrungi generasi muda, telah membawa berbagai dampak dalam banyak aspek kehidupan. Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana TikTok memengaruhi filsafat—sebuah bidang yang dikenal dengan kedalamannya, nuansa, dan argumen logis yang kompleks. Namun, di tengah popularitas TikTok, filsafat justru kerap direduksi menjadi konsep dangkal. Apakah ini hanya bagian dari evolusi budaya, atau justru sebuah kemunduran?  


Filsafat yang Direduksi Menjadi Klise  

Di TikTok, kita sering menemukan video-video yang menampilkan kutipan filsuf terkenal seperti Nietzsche atau Socrates. Sayangnya, kutipan-kutipan ini sering kali diambil tanpa konteks, sehingga maknanya menjadi kabur atau bahkan salah. Misalnya, frasa terkenal "Tuhan telah mati" dari Nietzsche sering disalahartikan tanpa memahami filosofi mendalam di baliknya.  


Lebih jauh lagi, filsafat yang seharusnya mengundang diskusi kritis justru berubah menjadi frasa singkat yang catchy, dihiasi musik dramatis dan visual menarik. Akibatnya, filsafat kehilangan kedalamannya dan hanya menjadi hiburan semata. Alih-alih memicu pemikiran mendalam, konten semacam ini lebih sering menggiring opini secara dangkal.  


 Estetika vs Substansi  

Salah satu daya tarik TikTok adalah estetika visual dan emosionalnya. Namun, ini juga menjadi tantangan bagi penyajian konten filsafat. Video-video sering kali lebih fokus pada tampilan dramatis daripada substansi pemikiran. Hal ini menciptakan fenomena "pseudo-intelektualisme," di mana seseorang merasa telah memahami filsafat hanya karena menonton video pendek tanpa pernah membaca karya aslinya.  


 Dampak Negatif pada Generasi Muda  

Selain filsafat, TikTok juga membawa tantangan lain seperti konten vulgar, cyberbullying, dan body shaming. Semua ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan akhlak generasi muda. Bahkan, menurut Dr. Gary Lynch, paparan konten dangkal dan vulgar dalam waktu singkat dapat memengaruhi struktur otak secara negatif. Jika dibiarkan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia bisa saja berubah menjadi bencana demografi akibat generasi yang kehilangan kemampuan berpikir kritis.  


Apa yang Bisa Dilakukan?  

Sebagai pengguna media sosial, kita perlu lebih bijak dalam menyaring informasi. Jika Anda tertarik pada filsafat, luangkan waktu untuk membaca karya-karya asli para filsuf atau berdiskusi dengan komunitas yang memahami topik tersebut secara mendalam. Selain itu, penting bagi kita untuk tetap kritis terhadap konten apa pun yang kita konsumsi di media sosial agar tidak terjebak dalam penyebaran ide-ide yang tidak masuk akal.  


TikTok memang menawarkan hiburan instan, tetapi mari kita gunakan platform ini dengan bijaksana. Biarkan filsafat tetap menjadi jendela untuk berpikir mendalam, bukan sekadar tren viral belaka. Dengan begitu, kita bisa menjaga nilai-nilai penting dalam dunia pemikiran sambil tetap menikmati kemajuan teknologi.  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url